Berita tertulis pertama tentang kota kendari
diperoleh dari tulisan Vosmaer (1839) yang mengunjungi Teluk Kendari untuk
pertama kalinya pada 9 mei 1831 dan membuat peta Teluk Kendari. sejak itu,
Teluk kendari dikenal dengan nama Vosmaer baai (Teluk Vosmaer).
Pada tahun 1832, vosmaer kembali ke Teluk Kendari
mendirikan lodge (Loji atau Kantor Dagang) dan rumah untuk Raja Ranomeeto (Lakina
Laiwoi) bernama Tebau. Yang sebelumnya bermukin diwilayah Lepo-Lepo. Sumber
inggris (Heeren 1972) menyatakan, para pelayar Bugis dan Bajo melakukan
aktivitas perdagangan di teluk kendari dengan penduduk setempat [suku tolaki]
yang bermukim di sebelah selatan dan sebelah barat teluk kendari pada akhir
abad ke-18.hal ini ditumjukan adanya pemukiman etnis tersebut di sekitar teluk
kendari pada awal abad-19.sebagai fungsi kota pelabuhan dapat dikatakan bahwa
pada awal abad ke-19, menyusul fungsi kota kendar sebagai kota pusat kerajaan
laiwoi pada abad 1832 ketika dibangunnya istana raja disekitar teluk
kendari.berdasarkan hal tersebut,lahirnya kota kendari dimulai dengan mengacu
pada peristiwa publikasi vosmaer tersebut , sehingga dengan demikian usia kota
kendari telah mencapai 184 tahun,meskipun jauh sebelum itu telah ada
perkembangan sejarah masyarakat di wilayah kota kendari sekarang ini{Hafid dan
Safar;2007}
.
Kota kendari dimasa Pemerintahan Belanda merupakan
ibu kota Kewedanan dan ibu kota onder afdeeling Laiwoi dengan luas wilayah pada
masa itu kurang lebih 31,420 km2 Sedangkan Pemerintah Kota Kendari terbentuk
berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia
Nomor 6 Tahun 1995 yang disahkan pada tanggal 3 Agustus 1995 dengan
status kotamadya Daerah Tingkat II Kendari. Sejalan dengan dinamika
perkembangan sebagai pusat perdagangan dan perhubungan laut antar pulau, maka
kendari terus berkembang menjadi ibu kota Kabupaten dan masuk dalam wilayah
Provinsi Sulawesi Tenggara.








0 comments:
Post a Comment